LAPORAN
PENGAMATAN
HAMA DAN PENYAKIT
PADA TANAMAN TERONG
( Solanum
melongena L )
DI SUSUN OLEH
SITI
ZULHIZZAH LUBIS
NPM : 2011 11 043
![]() |
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
GRAHA NUSANTARA
PADANGSIDIMPUAN
T.A 2012- 2013
KATA
PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Puji syukur
dengan segenap kerendahan hati dan ketulusan jiwa, kami panjatkan kepada
kehadirat Allah S.W.T yang senantiasa melimpahkan rahmat karunia dan
hidayah-Nya, sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan judul “LAPORAN PENGAMATAN HAMA PENYAKIT PADA
TANAMAN TERONG ( Solanum
melongena L)”
Serta salam kami tunjukan kapada Rasul kita
Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan pencerahan kepada kita dengan agama
rahmatan lil „alamin agama islam.
Selesainya
penulisan makalah ini tidak lepas dari bantuan serta dukungan darisemua pihak
baik moril ataupun materil sehingga makalah ini dapat terselesai dengan
baik.Dan semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita semua terlebih
– lebih bagi kelompok kami yang mengerjakan makalah ini.
Penulis
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk
penyusunan maupun materinya.Kritik konstruktif dari pembaca sangat penulis
harapkan untuk penyempurnaan makalah kelompok kami yang mengerjakan makalah
ini.
Padangsidimpuan, 18 Desember 2013
Penulis
DAFTAR
ISI
Kata
Pengantar............................................................................................................ i
Daftar
Isi..................................................................................................................... ii
BAB
I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang..................................................................................................... 1
1.2 Tujuan.................................................................................................................. 1
BAB
II Tinjauan
Pustaka
2.1
Botani................................................................................................................. 2
2.2
Morfologi............................................................................................................ 2
2.3
Taksonomi.......................................................................................................... 3
2.4
Syarat Tumbuh.................................................................................................... 3
2.5
Hama.................................................................................................................. 3
2.6
Penyakit.............................................................................................................. 4
BAB
III Metode Pelaksanaan
3.1
Waktu dan Tempat............................................................................................... 5
3.2
Alat dan Bahan..................................................................................................... 5
3.3
Prosedur
Pelaksanaan........................................................................................... 5
BAB
IV Hasil dan Pembahasan
4.1
Hasil .................................................................................................................... 6
4.2
Pembahasan......................................................................................................... 7
BAB
V Kesimpulan dan Saran
5.1
Kesimpulan.......................................................................................................... 15
5.2
Saran................................................................................................................... 15
Daftar
Pustaka
Lampiran
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Pada budidaya tanaman umumnya, OPT merupakan salah satu
kendala yang perlu diperhatikan dan ditanggulangi. Perkembangan serangan OPT
yang tidak dapat dikendalikan, akan berdampak kepada timbulnya masalah-masalah
lain yang bersifat sosial, ekonomi, dan ekologi.
Organisme pengganggu tanaman adalah semua organisme yang
dapat menyebabkan penurunan potensi hasil yang secara langsung karena
menimbulkan kerusakan fisik, gangguan fisiologi dan biokimia, atau kompetisi
hara terhadap tanaman budidaya. Organisme Pengganggu tanaman dikelompokan
menjadi 3 kelompok utama yaitu Hama, Penyakit, dan Gulma.
Tanaman tidak selamanya bisa hidup tanpa
gangguan. Kadang tumbuhan mengalami gangguan oleh binatang atau organisme kecil
(virus, bakteri, atau jamur). Hewan dapat disebut hama karena mereka mengganggu
tanaman dengan memakannya. Belalang, kumbang, ulat, wereng, tikus, walang
sangit merupakan beberapa contoh binatang yang sering menjadi hama tanaman.
Terong pada masa pertumbuhannya tidak terlepas dari hama dan
penyakit yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman terong. Dengan demikian jika
pertumbuhan tanaman terhambat akan dapat menurunkan produksi bahkan sampai mengakibatkan gagal panen.
1.2
Tujuan
a.
Untuk mengetahui berbagai jenis hama penyakit yang menyerang
tanaman terong.
b.
Untuk mengetahui bagaimana tingkat serangan hama penyakit
pada suatu lahan pertanaman terong.
c.
Sebagai bahan pembelajaran khususnya mata kuliah Pengendalian
Hama dan Penyakit Terpadu.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Botani
Terong merupakan tanaman jenis perdu yang umumnya setahun
(annual). Terong yang merupakan famili solanaceae atau nama latinnya solanum
melongena. tingginya mencapai 60-90 meter. Buahnya biasanya dijadikan
sayur-sayuran yang bernilai gizi tinggi. Dari segi botani, buah yang dikelaskan
sebagai beri mengandung banyak biji yang kecil dan lembut. Biji itu boleh
dimakan tetapi rasanya pahit karena mengandung alkaloid nikotin. Ini tidaklah
mengherankan karena terong adalah saudara dekat tembakau.
Asal-usul budidayanya berada di bagian selatan dan timur Asia
sejak zaman prasejarah, tetapi baru dikenal di dunia Barat tidak lebih awal
dari sekitar tahun 1500. Buahnya mempunyai berbagai warna, terutama ungu,
hijau, dan putih. Catatan tertulis yang pertama tentang terung dijumpai dalam
Qí mín yào shù, sebuah karya pertanian Tiongkok kuno yang ditulis pada tahun
544[4]. Banyaknya nama bahasa Arab dan Afrika Utara untuk terong serta
kurangnya nama Yunani dan Romawi menunjukkan bahwa pohon ini dibawa masuk ke
dunia Barat melewati kawasan Laut Tengah oleh bangsa Arab pada awal Abad
Pertengahan. Nama ilmiahnya, Solanum melongena, berasal dari istilah Arab abad
ke-16 untuk sejenis tanaman terung.
2.2 Morfologi
Daun : berbentuk bulat telur, elips,atau memanjang, memiliki permukaan
yang cukup luas (3-15 cm x 2-9 cm), bentuk helaiannya menyerupai telinga,
letak helaian daun- daunnya tersebar pada cabang batang, umumnya berlekuk dengan tepi daun berombak, kedua sisi daun
umumnya ditutupi rambut tipis yang masing-masing berbentuk bintang
berwarna kelabu, tulang daun tersusun menyirip, pada tulang daun yang bersar
sering terdapat duri tempel.
Batang :tumbuh tegak, cabang-cabangnya
tersusun rapat, berbentuk bulat, berwarna keunguan, umumnya ditutupi rambut
tipis berbentuk bintang berwarna kelabu, ada yang memiliki duri tempel dan ada
yang tidak memiliki.
Akar
: memiliki sistem perakaran tunggang, dengan akar samping yang dangkal. berwarna putih kecoklatan.
Bunga :
merupakan bunga majemuk dan sempurna, tumbuh pada cabang batang secara
berseling, panjang anak tangkai bunga antara 1-2 cm, kelopak bertaju lima dan
berambut, tabung kelopak berbentuk lonceng dan bersudut dengan tinggi 5-6 mm,
mahkotanya berwarna ungu dan berjumlah lima, satu sama lain dihubungkan dengan
selaput tipis, kepala sarinya berwarna kuning, tergolong dalam bunga banci atau
berkelamin dua (hermaphroditus) : pada bunga terdapat benang sari maupun
putik, kelopak yang tetap berkembang (ikut) menjadi bagian buah. Tanaman terung mulai berbunga umur ± 2
bulan dan buah dipanen sekitar umur 3 – 4 bulan.
Buah
: berbentuk buni atau bulat memanjang, panjang tangkainya kurang lebih 3 cm,
diameter buah 3 cm, buahnya berwarna ungu atau kuning.
Biji
: berbentuk bulat pipih, berwarna kuning kecoklatan
2.3 Taksonomi
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super
Divisi : Spermatophyta
(Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan
berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua
/ dikotil)
Sub
Kelas : Asteridae
Ordo : Solanales
Famili : Solanaceae (suku terung-terungan)
Genus : Solanum
Spesies : Solanum melongena L.
2.4
Syarat Tumbuh
- Dapat tumbuh di dataran rendah tinggi
- Suhu udara 22 - 30o C
- Jenis tanah yang paling baik, jenis lempung berpasir, subur, kaya bahan organik, aerasi dandrainase baik dan pH antara 6,8-7,3
- Sinar matahari harus cukup
- Cocok ditanam musim kemarau
2.5
Hama
Hama adalah semua organisme atau
agens biotik yang merusak tanaman dengan cara yang bertentangan dengan
kepentingan manusia
(Smith, 1983). Sedangkan Menurut Nas (1978), serangga dikatakan hama apabila serangga tersebut mengurangi kualitas dan
kuantitas bahan makanan, pakan ternak, tanaman serat, hasil pertanian atau
panen, pengolahan dan dalam penggunaannya serta dapat bertindak sebagai vektor
penyakit pada tanaman, binatang dan manusia, dapat merusak tanaman hias, bunga
serta merusak bahan bangunan dan milik pribadi lainnya.
·
Beberapa jenis hama yang menyerang tanaman terong antara lain
:
a.
Kumbang Daun (Epilachna spp.)
b.
Kutu Daun (Aphis spp.)
c.
Tungau ( Tetranynichus spp.)
d.
Ulat Tanah ( Agrotis ipsilon
Hufn.)
e.
Ulat Grayak (Spodoptera litura,
F.)
f.
Ulat Buah ( Helicoverpa
armigera Hubn.)
g.
Kutu Daun Persik (Myzus persicae Sulzer)
h.
Lalat Buah (Bactrocera
sp.)
i.
Thrips (Thrips
parvispinus Karny
2.6
Penyakit
Gangguan terhadap tanaman yang disebabkan oleh virus, bakteri,
dan jamur disebut penyakit. Tidak seperti hama, penyakit tidak memakan
tumbuhan, tetapi mereka merusak tumbuhan dengan mengganggu proses– proses dalam
tubuh tanaman sehingga mematikan tumbuhan. Oleh karena itu, tanaman yang
terserang penyakit, umumnya, bagian tubuhnya utuh. Akan tetapi, aktivitas
hidupnya terganggu dan dapat menyebabkan kematian.
·
Beberapa jenis penyakit yang menyerang tanaman
terong antara lain :
a.
Layu Bakteri;disebabkan bakteri Pseudomonas solanacearum
b.
Busuk Buah; disebabkan jamur Phytophthora sp.
c.
Bercak Daun; disebabkan jamur Cercospora sp, Alternaria
solani, Botrytis cinerea
d.
Antraknose; disebabkan oleh Gloeosporium melongena Ell.
e.
Busuk Leher Akar; Penyebabnya adalah Sclerotium rolfsii
f.
Rebah Semai; disebabkan Jamur Rhizoctonia
solani dan Pythium spp
g.
Mosaik
h.
Busuk Daun (Pseudoperonospora
cubensis Berk)
i.
Penyakit Tepung (Erysiphi cichoracearum DC)
BAB
III
METODE
PELAKSANAAN
3.1 Waktu dan
Pelaksanaan
Pengamatan ini dilaksanakan sebagai salah satu tugas dari
mata kuliah Pengendalian Hama danPenyakit terpadu. Dan dilaksanakan di lapangan
bertempat di samping Kafe JKT-46 di Jl. Lintas Baru, Desa Pudun,
Padangsidimpuan. Pengamatan ini kami lakukan pada tanggal 23 November sampai 11
Desember 2013, di lahan salah seorang petani.
Nama pemilik : Pak siddik
Alamat : Batunadua
Luas lahan : 50 x 20 m
Jumlah
Bedengan : 30 Bedengan
Umur tanaman : 2 bulan
Varietas : Terong ungu jepang
Tabel
Kegiatan Pengamatan
|
Pengamatan
|
Tanggal Pengamatan
|
Kegiatan
|
|
I
|
23
November 2013
|
Pengamatan
dan interview dengan pemilik kebun
|
|
II
|
30
November 2013
|
Mengamati
serangan hama penyakit
|
|
III
|
7 Desember 2013
|
Pengambilan
hama penyakit
|
|
IV
|
11
Desember 2013
|
Mengamati
serangan hama penyakit
|
3.1
Alat
dan Bahan
Adapun alat yang digunakan pada pengamatan ini adalah alat tulis
dan camera, dan bahan yang digunakan adalah tanaman terong.
3.2
Prosedur
Pelaksanaan
· Pengamatan
dilakukan pada 5 tanaman
·
Pengamatan
dilakukan 1 kali seminggu selama 4 kali
·
Mengamati gejala
serangan hama penyakit yang menyerang tanaman terong
·
Mencatat dan
mendokumentasikan serangan hama penyakit yang menyerang tanaman terong
·
Mengambil jenis
hama yang menyerang dan dibuat dalam herbarium basah
·
Untuk jenis
penyakit yang menyerang daun di buat
dalam herbarium kering.
·
Deskripsikan jenis
hama penyakit yang ditemukan di lapangan dengan literature.
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil
Hasil
pengamatan yang kami temukan dilahan yang menyerang tanaman terong antara lain
:
|
Pengamatan
|
Tanaman
|
Gejala
Serangan
|
|
I
|
I
|
Pinggir daun kuning
|
|
II
|
Kumbang
|
|
|
III
|
Kumbang, pinggir daun kuning
|
|
|
IV
|
Kumbang, pinggir daun kuning
|
|
|
V
|
Kumbang, pinggir daun kuning
|
|
|
II
|
Tanaman
|
Gejala
Serangan
|
|
I
|
Daun berlobang, pinggir daun kuning, kumbang
|
|
|
II
|
Daun sobek, pinggir daun kuning-coklat,
Ulat, hitam dibawah daun
|
|
|
III
|
Daun berlobang, pinggir daun kuning,kumbang
|
|
|
IV
|
Daun berlobang, pinggir daun kuning, hitam bawah daun
|
|
|
V
|
Daun berlobang, pinggir daun kuning
|
|
|
III
|
Tanaman
|
Gejala
Serangan
|
|
I
|
Ulat, pinggir daun kuning
|
|
|
II
|
Bintik pada buah, pinggir daun, daun berlobang
|
|
|
III
|
Pinggir daun kuning
|
|
|
IV
|
Kumbang, ulat, pinggir daun kuning-coklat
|
|
|
V
|
Pinggir daun kuning, daun sobek, kumbang,
|
|
|
IV
|
Tanaman
|
Gejala
Serangan
|
|
I
|
Kumbang, pinggir daun kuning, buah busuk
|
|
|
II
|
Kumbang, sobek, pinggir daun kuning
|
|
|
III
|
Buah busuk,daun sobek
|
|
|
IV
|
Daun kuning, daun sobek
|
|
|
V
|
Pinggir daun kuning
|
Dan beberapa jenis gulama yang kami temukan pada pengamatan antara lain :
·
teki
( Cyperus rotundus L )
·
Babandotan
( Agerantum conyzoldes )
·
Putri
malu ( Mimosa Sp )
·
alang alang atau lialang Imperata cylindrica
·
Rumput Lampuyangan Panicum repens
·
Rumput gajah Pennisetum purpureum
·
Rumput teki Cyperus rotundus
Penyebab gejala serangan pada tanaman terong:
·
Hama
1.
Kumbang Daun (Epilachna
spp.)
Gejala
serangan adanya bekas gigitan pada permukaan daun sebelah bawah. Bila serangan
berat dapat merusak semua jaringan daun dan tinggal tulang-tulang daun saja
2.
Kutu
Daun (Aphis spp.)
Menyerang dengan cara mengisap cairan sel
bagian pucuk atau daun-daun masih muda
Gejala yang ditimbulkan daun menguning, keriput atau keriting atau menggulung.
Gejala yang ditimbulkan daun menguning, keriput atau keriting atau menggulung.
3.
Ulat Grayak (Spodoptera
litura, F.)
Menyerang dengan
cara merusak (memakan) daun hingga berlubang-lubang. Daun yg terserang menjadi
sobek, terpotong atau bolong.
4.
Kutu daun (Myzus persicae Sulzer)
Menyerang daun,
menyebabkan daun menguning, jika terserang hama lainnya akan menyebabkan
bintik-bintik kuning, kemudian akan diikuti daun mengerut, mengeriting, memerah
dan kering atau gejala terbakar.
·
Penyakit
1.
Busuk Buah
Penyebab : jamur Phytophthora sp., Phomopsis vexans, Phytium
sp.
Gejala serangan adanya bercak-bercak coklat kebasahan pada buah sehingga buah busuk.
Gejala serangan adanya bercak-bercak coklat kebasahan pada buah sehingga buah busuk.
2.
Antraknose
Penyebab
: jamur Gloesporium melongena Gejala
bercak-bercak melekuk dan bulat pada buah lalu membesar berwarna coklat dengan
titik-titik hitam
4.2
Grafik
serangan Hama penyakit
Dari grafik diatas tingkat serangan hama lebih tinggi dibandingkan
serangan penyakit pada lahan terong.
|
Tan
|
Minggu
|
KET
|
|||
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
|
|
|
I
|
H2
|
H1,H3
|
H3,H2
|
H1,H2,P1
|
|
|
II
|
H1
|
H3,H2
|
H2,P2
|
H1,H3,H2
|
|
|
III
|
H1, H3,
|
H3,H2,H1,
|
H1,H2
|
P1,H3
|
H1= Kumbang daun
H2= Kutu daun
H3= Ulat grayak
P1= Busuk buah
P2= Antraknosa
|
|
IV
|
H1,H4
|
H3,H2
|
H1,H3,H2
|
H2,H3
|
|
|
V
|
H1,H4
|
H1,H2
|
H3,H2
|
H1,H2
|
|
Berat
= jumlah populasi >10
Ringan = jumlah populasi 1-5
Sedang
= jumlah populasi 6-9
Dar i tabel diatas tingkat serangan hama yang banyak menyerang tanaman
terong adalah kumbang daun (Epilachna spp).Dan penyakit yang sering menyerang tanaman terong adalah penyakit bercak daun yang
disebabkan jamur Cercospora sp,
Alternaria solani, Botrytis cinerea.
4.2
Pembahasan
a.
Kumbang
daun (Epilachna sp)
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : insecta
Ordo : Coleoptera
Famili : Cocconellidae
Subfamili :
Chilocorinae; Coccidulinae; Coccinellinae; Epilachninae; Scyciminae;
Sticholotidinae
Kumbang daun atau lembing mempunyai bintik dibagian elytranya
dan tersebar mulai dari Asia Tenggara, menuju Asia Selatan dan Australia. Hama ini bersifat
Polifag dan tanaman inang utamanya adalah mentimun, tomat, kentang, kacang
merah dan terong. Kumbang ini
nigrum,
S. xanthocarpum, S. torvum, Datura sp., Physalis sp.
and Withania somnifera (L.).
Telur: Serangga betina umumnya meletakkan telur
dibawah permukaan daun. Jumlah telur yang diletakkan seekor betina kira-kira
100-400 butir. Telur diletakkan secara berkelompok dan berwarna kuning . Telur
yang diletakkan perkelompok telur berkisar antara 10-40 butir. Lamanya fase
telur berkisar antara dua sampai lima hari.
Larva: Larva berwarna putih atau kekuning-kuningan
dengan dengan rambut seperti duri berwarna hitam pada tubuhnya.Lamanya fase
larva berkisar antara dua sampai lima minggu tergantung pada temperatur. Larva
membentuk pupa yang diletakkan pada daun atau batang.
Pupa: Pupa bentuknya menyerupai larva tetapi
kebanyakan berwarna gelap, atau berwarna terang, walapun kadangkadang ada yang
berwarna kuning. Pupa mempunyai rambut seperti duri pada bagian posterior
tetapi tidak pada bagian anterior tubuh. Lamanya fase pupa berkisar antara satu
sampai dua minggu.
Dewasa: Subfamili Epilachninae ada
juga yang pemakan tanaman, sebab kebanyakan kumbang lembing ini bersifat
predator dan bukan merupakan hama tanaman. Kumbang dewasa berwarna kecoklatan
atau oranye, berbentuk bulat pipih dan lebih besar dari kumbang predator. E.
vigintioctopunctata (mempunyai 28 bintik pada elytra sayap luar. E.
dodecastigma (mempunyai 12 bintik pada bahagian elyra). Hasil
pengamatan dilapangan ditemukan juga kumbang ini yang mempunyai bintik 14, 16,
18, 20, 22, 24 or 26 yang merupakan hasil perkawinan antara betina dari E.
dodecastigma betina dengan jantan dari E. vigintioctopunctata
Gejala kerusakan, Larva dan
dewasa mempunyai tipe mulut pengunyah. Oleh karena itu serangga ini akan
menggores klorofil dari lapisan epidermis daun. Akibat makan serangga ini maka
akan terbentuk jendela-jendela yang berlubang (Gambar 25). Daun yang berlubang
akan mengering dan gugur. Bila serangan berat daun yang berlubang akan menyatu
dan akan menyisakan tulang-tulang daunnya saja.
Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
a. Mengumpulkan dan memusnahkan kumbang.
b. Atur waktu tanam.
c. Jagalah
parasitoid telur, Pediobius foveolatus
C. Kutu Daun Persik (Myzus
persicae Sulzer)
Ordo :
Homoptera
Famili
: Aphididae
Hama ini disebut juga Green Peach
Aphid
Distribusi
berupa Kosmopolit. Tanaman inang bersifat polifag, lebih dari 400 sp tan dari
40 famili, tomat, kentang, tembakau, kubis, cabai, terung, semangka, ubi jalar
dll. Perkembangannya adalah Partenogenesis, seksual (telur, nimfa dan imago).
Nimfa dan imago mempunyai antena yang relatif panjang/sama
panjang dengan tubuhnya. Nimfa dan imago mempunyai sepasang tonjolan pada ujung
abdomen yang disebut kornikel. Ujung kornikel berwarna hitam. Imago yang
bersayap warna sayapnya hitam, ukuran tubuh 2 - 2,5 mm, nimfa kerdil dan
umumnya berwarna kemerahan. Nimfa dan Imago yang tidak bersayap tubuhnya
berwarna
merah
atau kuning atau hijau berukuran tubuh 1,8 - 2,3 mm. Umumnya warna tubuh imago
dan nimfa sama, kepala dan dadanya berwarna coklat sampai hitam, perut berwarna
hijau kekuningan. Siklus hidup 7 - 10 hari.
Temperatur mempengaruhi reproduksi ( > 25 - < 28,5 °C
mengurangi umur imago dan jumlah keturunan, > 28,5OC reproduksi terhenti).
Berkembang biak secara partenogenesis. Seekor kutu menghasilkan keturunan 50
ekor. Lama hidup kutu dewasa dapat mencapai 2 bulan.
Gejala
Secara langsung, kutu daun ini mengisap cairan tanaman. Akibatnya, daun yang
terserang keriput, berwarna kekuningan, terpuntir dan pertumbuhan tanaman terhambat (kerdil), sehingga tanaman
menjadi layu dan mati. Gejala Secara
tidak langsung, kutu daun berperan sebagai penyebar (vektor) penyakit virus. Tanaman yang terserang
penyakit virus akan menjadi kerdil, daun berukuran kecil dan pertumbuhannya
terhambat.Dampak langsung serangan hama ini adalah tanaman menjadi keriput,
tumbuh kerdil, warna daun kekuningan, terpuntir, layu lalu mati. Secara tidak
langsung, kutu ini merupakan vektor lebih dari 150 strain virus terutama
penyakit virus CMV, PVY. Kutu ini biasanya hidup berkelompok dan berada di
bawah permukaan daun, menghisap cairan daun muda dan bagian tanaman yang masih
muda (pucuk). Eksudat/cairan yang dikeluarkan kutu ini mengandung madu sehingga
mendorong tumbuhnya cendawan embun jelaga pada daun yang dapat menghambat
proses fotosintesa.
Pengendalian
dapat dilakukna dengan cara sebagai berikut.
a.
Pergiliran tanaman.
b.
Tanam serempak.
c.
Tanaman yang terserang segera dicabut dan dimusnahkan.
d.
Sanitasi kebun.
e.
Penggunaan varietas
resisten.
f.
Kumpulkan dan musnahkan buah terserang.
g.
Penggunaan musuh alami seperti Parasitoid
Aphelinus asychis, Aphidius rosae, Diaeretiella rapae Predator
Coccinella transversalis, dan Cendawan entomopatogen Erynia neoaphidis
d.
Kutu Daun (Aphis
gossypii
Glover)
Ordo
: Homoptera
Famili
: Aphididae
Distribusinya
berupa kosmopolit. Tanaman inang : polifag , asparagus, alpukat, pisang,
mentimun, terung, Hibiscus, kapas, papaya, cabai, kentang, bayam,tomat,
semangka dll . Perkembangannya yaitu partenogenesis. hama ini berbentuk seperti
pear, warnanya bervariasi dari hijau muda sampai hitam, kuning. Mempunyai
kornikel pada bagian ujung abdomen. Imago dapat hidup selama 28 hari. Satu ekor
imago betina dapat menghasilkan 2-35 nimfa/hari. Siklus hidup dari nimfa sampai
imago 5-7 hari. Selama satu tahun dapat menghasilkan 16-47 generasi.
Gejala
serangan yaitu serangan berat biasanya terjadi pada musim kemarau. Bagian
tanaman yang diserang oleh nimfa dan imago biasanya pucuk tanaman dan daun
muda. Daun yang diserang akan mengkerut, pucuk mengeriting dan melingkar shg
pertumbuhan tanaman terhambat atau tanaman kerdil. Kerusakan ringan akan
menyebabkan daun menguning.Hama ini juga
mengeluarkan cairan manis seperti madu shg menarik datangnya semut dan cendawan
jelaga berwarna hitam. Adanya cendawan pada buah dapat menurunkan kualitas
buah. Aphid juga dapat berperan sebagai vektor virus penyakit tanaman (50 jenis
virus) sep. Papaya Ringspot Virus, Watermelon Mosaic Virus , Cucumber Mosaic
Virus (CMV).
Pengendalian
dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut.
a.
Mengatur waktu tanam.
b.
Pergiliran tanaman.
c.
Penggunaan musuh alami seperti Parasitoid Aphelinus gossypi (Timberlake), Lysiphlebus testaceipes (Cresson).
Predator Coccinella transversalis dan
Cendawan entomopatogen Neozygites
fresenii
e. Busuk buah
Penyebabnya adalah jamur Phytophthora sp. Phomopsis vexans, Phytium sp.
Gejala pada buah terung mula-mula
terjadi bercak kebasahan yang bergaris tengah lebih kurang 0,5 cm. Becak meluas
dengan cepat ke arah sumbu panjang, sehingga becak bentuknya memanjang. Pada
jenis berbuah bulat dan warnanya ungu becak tetap berbentuk bulat dan berwarna
gelap. Bagian dalam buah berubah warnanya, kebasah-basahan, dan berbatas coklat
tidak teratur. Akhirnya buah terlepas dari kelopaknya dan menjadi busuk sama
sekali.
Pengendalian dapat dilakukan dengan
cara sebagai berikut.
Dalam pertumbuhan,sporulasi
dan infeksinya, Phytophthora banyak dipengaruhi oleh faktor
lingkungan,diantaranya adalah kelembaban tanah, tersedianya bahan organik,
pHtanah dan keberadaan mikroorganisme lain. Kelangsungan hidup suatu patogen
dapat meningkat apabila selainhidup sebagai parasit tanaman, juga mempunyai
kemampuan hidup tanpa tanaman inang misalnya dengan membentuk struktur dorman
atau propagul istirahat dan hidup saprofitik.Kemampuan hidup Phytophthora
tanpa tanaman inang, beranekaragam. Semua struktur Phytophthora kecuali
klamidospora dan oospora akan mati pada kondisi kering. Sporangia, zoospora
atau miselium hanya dapat bertahan dalam tanah yang lembab.
a.
Menanam terung dengan jarak tanam yang cukup.
b.
Membersihkan gulma dan memelihara drainase.
c.
Buah-buah yang sakit dipetik dan dipendam.
e. Antraknose
Penyakit ini disebabkan oleh Gloeosporium melongena Ell.
Gejala pada buah becak-becak
melekuk, bulat, yang dapat bersatu menjadi becak besar yang tidak teratur.
Becak berwarna coklat dengan titik-titik hitam yang terdiri dari aservulus
jamur.
Pengendalian
dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
Faktor penyebab tanaman Antraknosa
adalah sebagai berikut :
a.
Penggunaan pupuk N yang terlalu banyak yang
menyebabkan tanaman menjadi rimbun dan kelembaban meningkat akhirnya timbul
jamur. Dengan demikian pupuk N harus dikurangi.
b.
Kelembaban iklim mikro, dimana kelembaban
ini timbul akibat jarak tanam yang terlalu rapat serta pemangkasan yang tidak
dilakukan.
c.
Percikan air hujan atau air siraman yang
mengenai buah cabai. Akibatnya buah cabai diselimuti air hujan atau air siraman
tersebut menimbulkan jamur.Maka untuk pengendaliannya harus menggunakan MPHP
atau penutup tanah.
a.
Menanam terung dengan jarak tanam yang cukup.
b.
Membersihkan gulma dan memelihara drainase.
c.
Buah-buah yang sakit dipetik dan dipendam.
d.
Rotasi tanaman.
e.
Penggunaan varietas
resisten.
f. Menyemprot dengan fungisida kontak (dithane,
nordox, kocide, antracol, dakonil dll) bersamaan dengan sistemik (derosal, bion
M, amistartop) dll
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari pengamatan yang kami amati pada lahan yang ditanami
tanaman terong (Solanum melongena L.)
populasi tingkatan serangan hama lebih tinggi dibandingkan penyakit. Dan
hama yang banyak ditemukan adalah Epilachna spp, Kutu Daun (Aphis spp.),Spodoptera litura F., Kutu daun (Myzus
persicae Sulzer)
.
Dan penyakit yang rentan menyerang tanaman terong adalah bercak daun yang disebabkan
jamur Cercospora
sp, Alternaria solani, Botrytis cinerea. Dan Antraknosa
yang
Pada pengamatan ini populasi tingkatan serangan hama lebih
tinggi dibandingkan penyakit.
Untuk pengendalian, serangan hama dan penyakit masih
dibawah ambang ekonomi dan belum memerlukan pengendalian menggunakan pestisida.
5.2
Saran
·
Pengamatan harus
lebih teliti untuk dapat mengidentifikasi gejala serangan hama.
·
Memperbanyak
literatur sebagai bahan perbandingan dengan gejala serangan hama penyakit yang
ditemukan di lapanagan.
·
Untuk pengendalian, serangan hama dan penyakit
masih dibawah ambang ekonomi dan belum memerlukan pengendalian menggunakan
pestisida.
DAFTAR
PUSTAKA
http://teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-terong.html
diakses tgl 19 Des 2013, 21.46 WIB
http://victorfaperta.blogspot.com/2012/03/layu-bakteri.html
diakses tgl 19 Des 2013, 21.52 WIB
https://www.facebook.com/permalink.php?id=103724189721811&story_fbid=518927821534777
diakses tgl 19 Des 2013, 22.02 WIB
http://willsenekasaputra.blogspot.com/2012/11/hama-pada-brassica-oleracea-var.html
diakses tgl 19 Des 2013, 22. 06 WIB
http: www//
Jabar.litbang.deptan.go.id/pdf/liptan/nabati.pdf. diakses tgl 19 Des
2013, 22.10 WIB
http://ditjenbun.deptan.go.id/bbpptpsurabaya/berita-439-pengenalan-dan-pengendalian-hama-ulat-grayak-pada-tanaman-kapas.html
diakses tgl 19 Des 2013, 22.12 WIB
http://ditlin.hortikultura.deptan.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=93&Itemid=23
diakses tgl 19 Des 2013, 22.15 WIB
http://ditlin.hortikultura.deptan.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=92&Itemid=236
diakses tgl 19 Des 2013, 22.16 WIB
http://wanty-pristiarini.blogspot.com/2012/10/laporan-3-penyakit-penting-tanaman.html
diakses tgl 19 Des 2013, 22.18 WIB
http://cempara.blogspot.com/2012_09_01_archive.html
diakses tgl 19 Des 2013, 22.20 WIB
LAMPIRAN
|
![]() |
![]() |
![]() |
|
Telur
kumbang Epilachna
|
Larva
Kumbang Epilachna
|
Kumbang
dewasa Epilachna
|
Gejala
serangan kumbang Epilachna
|
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
|
Ulat Grayak
(Spodoptera litura F.)
|
Gejala
serangan ulat grayak
(Spodoptera
litura F.)
|
Nimfa
kutu daun
Amarasca
devastans
|
Aphids
dibawah daun
Aphis
gossypii Glover
|
![]() ![]() |
![]() |
![]() |
|
|
Busuk
buah jamur Phytophthora sp
|
Daun
menguning akibat
Serangan
kutu daun
|
Antraknosa
oleh
Gloeosporium melongena Ell.
|
|
![]() |
![]() |
||||
![]() |
|||||
![]() |
|||||

















ma'af; yg kami butuhkan gimana cara mengatasi hama hama yg merusak pada tanaman terong...... trima kasih
BalasHapusPUSAT SARANA BIOTEKNOLOGI AGRO
BalasHapusmenyediakan RHIZOBIUM untuk keperluan penelitian, laboratorium, mandiri, perusahaan .. hub 081805185805 / 0341-343111 atau kunjungi kami di https://www.tokopedia.com/indobiotech temukan juga berbagai kebutuhan anda lainnya seputar bioteknologi agro
Grand Casino - MapYRO
BalasHapusA 대전광역 출장마사지 map showing Grand Casino in Tacoma containing address, 양주 출장샵 telephone 동두천 출장샵 number, The gaming floor 토토사이트 is filled with 20 slot machines, including popular table games such as Blackjack, 구미 출장샵