Senin, 03 Februari 2014

HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN TERONG



LAPORAN PENGAMATAN
HAMA DAN PENYAKIT
PADA TANAMAN TERONG
( Solanum melongena L )



DI SUSUN OLEH


SITI ZULHIZZAH LUBIS
NPM :  2011 11 043






Description: Description: D:\izza\71096_134397459249_7374130_n.jpg
 













FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GRAHA NUSANTARA
PADANGSIDIMPUAN
T.A 2012- 2013


KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Puji syukur dengan segenap kerendahan hati dan ketulusan jiwa, kami panjatkan kepada kehadirat Allah S.W.T yang senantiasa melimpahkan rahmat karunia dan hidayah-Nya, sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan judul “LAPORAN PENGAMATAN HAMA PENYAKIT PADA TANAMAN TERONG ( Solanum melongena L)”
 Serta salam kami tunjukan kapada Rasul kita Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan pencerahan kepada kita dengan agama rahmatan lil „alamin agama islam.
Selesainya penulisan makalah ini tidak lepas dari bantuan serta dukungan darisemua pihak baik moril ataupun materil sehingga makalah ini dapat terselesai dengan baik.Dan semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita semua terlebih – lebih bagi kelompok kami yang mengerjakan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya.Kritik konstruktif dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah kelompok kami yang mengerjakan makalah ini.
                                                                                     Padangsidimpuan,    18 Desember 2013




                                                                                                                     Penulis


DAFTAR ISI
Kata Pengantar............................................................................................................             i
Daftar Isi.....................................................................................................................             ii
BAB I     Pendahuluan
1.1  Latar Belakang.....................................................................................................             1
1.2  Tujuan..................................................................................................................             1

BAB II    Tinjauan Pustaka
2.1      Botani.................................................................................................................             2
2.2      Morfologi............................................................................................................             2
2.3      Taksonomi..........................................................................................................             3
2.4      Syarat Tumbuh....................................................................................................             3
2.5      Hama..................................................................................................................             3
2.6      Penyakit..............................................................................................................             4
              
BAB III   Metode Pelaksanaan
3.1    Waktu dan Tempat...............................................................................................             5
3.2    Alat dan Bahan.....................................................................................................             5
3.3    Prosedur Pelaksanaan...........................................................................................             5

BAB IV  Hasil dan Pembahasan
4.1    Hasil .................................................................................................................... 6
4.2    Pembahasan.........................................................................................................             7

BAB V    Kesimpulan dan Saran
5.1    Kesimpulan..........................................................................................................             15
5.2    Saran...................................................................................................................             15

Daftar Pustaka
Lampiran

BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang

Pada budidaya tanaman umumnya, OPT merupakan salah satu kendala yang perlu diperhatikan dan ditanggulangi. Perkembangan serangan OPT yang tidak dapat dikendalikan, akan berdampak kepada timbulnya masalah-masalah lain yang bersifat sosial, ekonomi, dan ekologi.
Organisme pengganggu tanaman adalah semua organisme yang dapat menyebabkan penurunan potensi hasil yang secara langsung karena menimbulkan kerusakan fisik, gangguan fisiologi dan biokimia, atau kompetisi hara terhadap tanaman budidaya. Organisme Pengganggu tanaman dikelompokan menjadi 3 kelompok utama yaitu Hama, Penyakit, dan Gulma.
Tanaman tidak selamanya bisa hidup tanpa gangguan. Kadang tumbuhan mengalami gangguan oleh binatang atau organisme kecil (virus, bakteri, atau jamur). Hewan dapat disebut hama karena mereka mengganggu tanaman dengan memakannya. Belalang, kumbang, ulat, wereng, tikus, walang sangit merupakan beberapa contoh binatang yang sering menjadi hama tanaman.
Terong pada masa pertumbuhannya tidak terlepas dari hama dan penyakit yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman terong. Dengan demikian jika pertumbuhan tanaman terhambat akan dapat menurunkan produksi bahkan sampai  mengakibatkan gagal panen.

1.2    Tujuan
a.       Untuk mengetahui berbagai jenis hama penyakit yang menyerang tanaman terong.
b.      Untuk mengetahui bagaimana tingkat serangan hama penyakit pada suatu lahan pertanaman terong.
c.       Sebagai bahan pembelajaran khususnya mata kuliah Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1  Botani
Terong merupakan tanaman jenis perdu yang umumnya setahun (annual). Terong yang merupakan famili solanaceae atau nama latinnya solanum melongena. tingginya mencapai 60-90 meter. Buahnya biasanya dijadikan sayur-sayuran yang bernilai gizi tinggi. Dari segi botani, buah yang dikelaskan sebagai beri mengandung banyak biji yang kecil dan lembut. Biji itu boleh dimakan tetapi rasanya pahit karena mengandung alkaloid nikotin. Ini tidaklah mengherankan karena terong adalah saudara dekat tembakau.
Asal-usul budidayanya berada di bagian selatan dan timur Asia sejak zaman prasejarah, tetapi baru dikenal di dunia Barat tidak lebih awal dari sekitar tahun 1500. Buahnya mempunyai berbagai warna, terutama ungu, hijau, dan putih. Catatan tertulis yang pertama tentang terung dijumpai dalam Qí mín yào shù, sebuah karya pertanian Tiongkok kuno yang ditulis pada tahun 544[4]. Banyaknya nama bahasa Arab dan Afrika Utara untuk terong serta kurangnya nama Yunani dan Romawi menunjukkan bahwa pohon ini dibawa masuk ke dunia Barat melewati kawasan Laut Tengah oleh bangsa Arab pada awal Abad Pertengahan. Nama ilmiahnya, Solanum melongena, berasal dari istilah Arab abad ke-16 untuk sejenis tanaman terung.

2.2  Morfologi
 Daun  : berbentuk bulat telur, elips,atau memanjang, memiliki permukaan yang cukup luas  (3-15 cm x 2-9 cm), bentuk helaiannya menyerupai  telinga, letak helaian daun- daunnya tersebar pada  cabang batang, umumnya berlekuk dengan tepi daun berombak, kedua sisi daun umumnya ditutupi rambut  tipis yang masing-masing  berbentuk bintang berwarna kelabu, tulang daun tersusun menyirip, pada tulang daun yang bersar sering terdapat duri tempel.
Batang   :tumbuh tegak, cabang-cabangnya tersusun rapat, berbentuk bulat, berwarna keunguan, umumnya ditutupi rambut tipis berbentuk bintang berwarna kelabu, ada yang memiliki duri tempel dan ada yang tidak memiliki.
Akar     : memiliki sistem perakaran tunggang, dengan akar samping yang dangkal. berwarna putih kecoklatan.
Bunga : merupakan bunga majemuk dan sempurna, tumbuh pada cabang batang secara berseling, panjang anak tangkai bunga antara 1-2 cm, kelopak bertaju lima dan berambut, tabung kelopak berbentuk lonceng dan bersudut dengan tinggi 5-6 mm, mahkotanya berwarna ungu dan berjumlah lima, satu sama lain dihubungkan dengan selaput tipis, kepala sarinya berwarna kuning, tergolong dalam bunga banci atau berkelamin dua (hermaphroditus) : pada bunga terdapat benang sari maupun putik, kelopak yang tetap berkembang (ikut) menjadi bagian buah. Tanaman terung mulai berbunga umur ± 2 bulan dan buah dipanen sekitar umur 3 – 4 bulan.
Buah     : berbentuk buni atau bulat memanjang, panjang tangkainya kurang lebih 3 cm, diameter buah 3 cm, buahnya berwarna ungu atau kuning.
Biji       : berbentuk bulat pipih, berwarna kuning kecoklatan
2.3  Taksonomi

Kingdom            : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom       : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi        : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi                  : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas                 : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas          : Asteridae
Ordo                  : Solanales
Famili                 : Solanaceae (suku terung-terungan)
Genus                 : Solanum
Spesies               : Solanum melongena L.

2.4    Syarat Tumbuh
  • Dapat tumbuh di dataran rendah tinggi
  • Suhu udara 22 - 30o C
  • Jenis tanah yang paling baik, jenis lempung berpasir, subur, kaya bahan organik, aerasi dandrainase baik dan pH antara 6,8-7,3
  • Sinar matahari harus cukup
  • Cocok ditanam musim kemarau
2.5    Hama
Hama adalah semua organisme atau agens biotik yang merusak tanaman dengan cara yang bertentangan dengan kepentingan manusia (Smith, 1983). Sedangkan Menurut Nas (1978), serangga dikatakan hama apabila serangga tersebut mengurangi kualitas dan kuantitas bahan makanan, pakan ternak, tanaman serat, hasil pertanian atau panen, pengolahan dan dalam penggunaannya serta dapat bertindak sebagai vektor penyakit pada tanaman, binatang dan manusia, dapat merusak tanaman hias, bunga serta merusak bahan bangunan dan milik pribadi lainnya.
·        Beberapa jenis hama yang menyerang tanaman terong antara lain :
a.       Kumbang Daun (Epilachna spp.)
b.      Kutu Daun (Aphis spp.)
c.       Tungau ( Tetranynichus spp.)
d.      Ulat Tanah ( Agrotis ipsilon Hufn.)
e.       Ulat Grayak (Spodoptera litura, F.)
f.        Ulat Buah ( Helicoverpa armigera Hubn.)
g.       Kutu Daun Persik (Myzus persicae Sulzer)
h.       Lalat Buah (Bactrocera sp.)
i.         Thrips (Thrips parvispinus Karny
2.6    Penyakit
Gangguan terhadap tanaman yang disebabkan oleh virus, bakteri, dan jamur disebut penyakit. Tidak seperti hama, penyakit tidak memakan tumbuhan, tetapi mereka merusak tumbuhan dengan mengganggu proses– proses dalam tubuh tanaman sehingga mematikan tumbuhan. Oleh karena itu, tanaman yang terserang penyakit, umumnya, bagian tubuhnya utuh. Akan tetapi, aktivitas hidupnya terganggu dan dapat menyebabkan kematian.
·        Beberapa jenis penyakit yang menyerang tanaman terong antara lain :
a.      Layu Bakteri;disebabkan bakteri Pseudomonas solanacearum
b.        Busuk Buah;  disebabkan jamur Phytophthora sp.
c.      Bercak Daun;  disebabkan jamur Cercospora sp, Alternaria solani, Botrytis cinerea
d.      Antraknose; disebabkan oleh Gloeosporium melongena Ell.
e.      Busuk Leher Akar;  Penyebabnya adalah Sclerotium rolfsii
f.          Rebah Semai; disebabkan Jamur Rhizoctonia solani dan Pythium spp
g.      Mosaik
h.      Busuk Daun (Pseudoperonospora cubensis Berk)
i.        Penyakit Tepung (Erysiphi cichoracearum DC)

BAB III
METODE PELAKSANAAN

3.1  Waktu dan Pelaksanaan
            Pengamatan ini dilaksanakan sebagai salah satu tugas dari mata kuliah Pengendalian Hama danPenyakit terpadu. Dan dilaksanakan di lapangan bertempat di samping Kafe JKT-46 di Jl. Lintas Baru, Desa Pudun, Padangsidimpuan. Pengamatan ini kami lakukan pada tanggal 23 November sampai 11 Desember 2013, di lahan salah seorang petani.
Nama pemilik               : Pak siddik
Alamat                         : Batunadua
Luas lahan                    : 50 x 20 m
Jumlah Bedengan          : 30 Bedengan
Umur tanaman              : 2 bulan
Varietas                        : Terong ungu jepang
Tabel Kegiatan Pengamatan
Pengamatan
Tanggal Pengamatan
Kegiatan
I
23 November 2013
Pengamatan dan interview dengan pemilik kebun
II
30 November 2013
Mengamati serangan hama penyakit
III
 7 Desember 2013
Pengambilan hama penyakit
IV
11 Desember 2013
Mengamati serangan hama penyakit

3.1    Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan pada pengamatan ini adalah alat tulis dan camera, dan bahan yang digunakan adalah tanaman terong.
3.2    Prosedur Pelaksanaan
·      Pengamatan dilakukan pada 5 tanaman
·      Pengamatan dilakukan 1 kali seminggu selama 4 kali
·      Mengamati gejala serangan hama penyakit yang menyerang tanaman terong
·      Mencatat dan mendokumentasikan serangan hama penyakit yang menyerang tanaman terong
·      Mengambil jenis hama yang menyerang dan dibuat dalam herbarium basah
·      Untuk jenis penyakit  yang menyerang daun di buat dalam herbarium kering.
·      Deskripsikan jenis hama penyakit yang ditemukan di lapangan dengan literature.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1    Hasil
Hasil pengamatan yang kami temukan dilahan yang menyerang tanaman terong antara lain :
Pengamatan
Tanaman
Gejala Serangan
I
I
Pinggir daun kuning
II
Kumbang
III
Kumbang, pinggir daun kuning
IV
Kumbang, pinggir daun kuning
V
Kumbang, pinggir daun kuning
II
Tanaman
Gejala Serangan
I
Daun berlobang, pinggir daun kuning, kumbang
II
Daun sobek, pinggir daun kuning-coklat,
Ulat, hitam dibawah daun
III
Daun berlobang, pinggir daun kuning,kumbang
IV
Daun berlobang, pinggir daun kuning, hitam bawah daun
V
Daun berlobang, pinggir daun kuning
III
Tanaman
Gejala Serangan
I
Ulat, pinggir daun kuning
II
Bintik pada buah, pinggir daun, daun berlobang
III
Pinggir daun kuning
IV
Kumbang, ulat, pinggir daun kuning-coklat
V
Pinggir daun kuning, daun sobek, kumbang,
IV
Tanaman
Gejala Serangan
I
Kumbang, pinggir daun kuning, buah busuk
II
Kumbang, sobek, pinggir daun kuning
III
Buah busuk,daun sobek
IV
Daun kuning, daun sobek
V
Pinggir daun kuning

Dan beberapa jenis gulama yang kami temukan pada pengamatan antara lain :
·        teki ( Cyperus rotundus L )
·        Babandotan ( Agerantum conyzoldes )
·        Putri malu ( Mimosa Sp )
·         alang alang atau lialang Imperata cylindrica                                          
·        Rumput Lampuyangan Panicum repens                                               
·        Rumput gajah Pennisetum purpureum                                    
·        Rumput teki Cyperus rotundus                                   
                                                           
Penyebab gejala serangan pada tanaman terong:
·        Hama
1.      Kumbang Daun (Epilachna spp.)
Gejala serangan adanya bekas gigitan pada permukaan daun sebelah bawah. Bila serangan berat dapat merusak semua jaringan daun dan tinggal tulang-tulang daun saja
2.      Kutu Daun (Aphis spp.)
      Menyerang dengan cara mengisap cairan sel bagian pucuk atau daun-daun masih muda
     Gejala yang ditimbulkan daun menguning, keriput atau keriting atau menggulung.
3.      Ulat Grayak (Spodoptera litura, F.)
Menyerang dengan cara merusak (memakan) daun hingga berlubang-lubang. Daun yg terserang menjadi sobek, terpotong atau bolong.
4.      Kutu daun (Myzus persicae Sulzer)
Menyerang daun, menyebabkan daun menguning, jika terserang hama lainnya akan menyebabkan bintik-bintik kuning, kemudian akan diikuti daun mengerut, mengeriting, memerah dan kering atau gejala terbakar.
·        Penyakit
1.      Busuk Buah
Penyebab : jamur Phytophthora sp., Phomopsis vexans, Phytium sp.
Gejala serangan adanya bercak-bercak coklat kebasahan pada buah sehingga buah busuk.
2.      Antraknose
Penyebab : jamur Gloesporium melongena Gejala bercak-bercak melekuk dan bulat pada buah lalu membesar berwarna coklat dengan titik-titik hitam

4.2    Grafik serangan Hama penyakit


 





Dari grafik diatas tingkat serangan hama lebih tinggi dibandingkan serangan penyakit pada lahan terong.
Tan
Minggu
KET
I
II
III
IV
           Berat
           Sedang
           Ringan
I
H2
H1,H3
H3,H2
H1,H2,P1
II
H1
H3,H2
H2,P2
H1,H3,H2
III
H1, H3,
H3,H2,H1,
H1,H2
P1,H3
H1= Kumbang daun
H2= Kutu daun
H3= Ulat grayak
P1= Busuk buah
P2= Antraknosa
IV
H1,H4
H3,H2
H1,H3,H2
H2,H3
V
H1,H4
H1,H2
H3,H2
H1,H2
Berat      = jumlah populasi >10
Ringan    = jumlah populasi 1-5
Sedang   = jumlah populasi 6-9
Dar i tabel diatas tingkat serangan hama yang banyak menyerang tanaman terong adalah kumbang daun  (Epilachna spp).Dan penyakit yang sering menyerang tanaman  terong adalah penyakit bercak daun yang disebabkan jamur Cercospora sp, Alternaria solani, Botrytis cinerea.

4.2    Pembahasan
a.      Kumbang daun  (Epilachna sp)
Kingdom          : Animalia
Filum                : Arthropoda
Kelas               : insecta
Ordo                :  Coleoptera
Famili               : Cocconellidae
Subfamili            : Chilocorinae; Coccidulinae; Coccinellinae; Epilachninae; Scyciminae; Sticholotidinae
Kumbang daun atau lembing mempunyai bintik dibagian elytranya dan tersebar mulai dari Asia Tenggara, menuju Asia Selatan dan Australia.  Hama ini bersifat Polifag dan tanaman inang utamanya adalah mentimun, tomat, kentang, kacang merah dan terong. Kumbang ini
nigrum, S. xanthocarpum, S. torvum, Datura sp., Physalis sp. and Withania somnifera (L.).
Telur: Serangga betina umumnya meletakkan telur dibawah permukaan daun. Jumlah telur yang diletakkan seekor betina kira-kira 100-400 butir. Telur diletakkan secara berkelompok dan berwarna kuning . Telur yang diletakkan perkelompok telur berkisar antara 10-40 butir. Lamanya fase telur berkisar antara dua sampai lima hari.
Larva: Larva berwarna putih atau kekuning-kuningan dengan dengan rambut seperti duri berwarna hitam pada tubuhnya.Lamanya fase larva berkisar antara dua sampai lima minggu tergantung pada temperatur. Larva membentuk pupa yang diletakkan pada daun atau batang.
Pupa: Pupa bentuknya menyerupai larva tetapi kebanyakan berwarna gelap, atau berwarna terang, walapun kadangkadang ada yang berwarna kuning. Pupa mempunyai rambut seperti duri pada bagian posterior tetapi tidak pada bagian anterior tubuh. Lamanya fase pupa berkisar antara satu sampai dua minggu.
Dewasa: Subfamili Epilachninae ada juga yang pemakan tanaman, sebab kebanyakan kumbang lembing ini bersifat predator dan bukan merupakan hama tanaman. Kumbang dewasa berwarna kecoklatan atau oranye, berbentuk bulat pipih dan lebih besar dari kumbang predator. E. vigintioctopunctata (mempunyai 28 bintik pada elytra sayap luar. E. dodecastigma (mempunyai 12 bintik pada bahagian elyra). Hasil pengamatan dilapangan ditemukan juga kumbang ini yang mempunyai bintik 14, 16, 18, 20, 22, 24 or 26 yang merupakan hasil perkawinan antara betina dari E. dodecastigma betina dengan jantan dari E. vigintioctopunctata
Gejala kerusakan, Larva dan dewasa mempunyai tipe mulut pengunyah. Oleh karena itu serangga ini akan menggores klorofil dari lapisan epidermis daun. Akibat makan serangga ini maka akan terbentuk jendela-jendela yang berlubang (Gambar 25). Daun yang berlubang akan mengering dan gugur. Bila serangan berat daun yang berlubang akan menyatu dan akan menyisakan tulang-tulang daunnya saja.
Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
a. Mengumpulkan dan memusnahkan kumbang.
b. Atur waktu tanam.
c. Jagalah parasitoid telur, Pediobius foveolatus



C. Kutu Daun Persik (Myzus persicae Sulzer)
Ordo    : Homoptera
Famili : Aphididae
            Hama ini disebut juga Green Peach Aphid
Distribusi berupa Kosmopolit. Tanaman inang bersifat polifag, lebih dari 400 sp tan dari 40 famili, tomat, kentang, tembakau, kubis, cabai, terung, semangka, ubi jalar dll. Perkembangannya adalah Partenogenesis, seksual (telur, nimfa dan imago).
Nimfa dan imago mempunyai antena yang relatif panjang/sama panjang dengan tubuhnya. Nimfa dan imago mempunyai sepasang tonjolan pada ujung abdomen yang disebut kornikel. Ujung kornikel berwarna hitam. Imago yang bersayap warna sayapnya hitam, ukuran tubuh 2 - 2,5 mm, nimfa kerdil dan umumnya berwarna kemerahan. Nimfa dan Imago yang tidak bersayap tubuhnya berwarna
merah atau kuning atau hijau berukuran tubuh 1,8 - 2,3 mm. Umumnya warna tubuh imago dan nimfa sama, kepala dan dadanya berwarna coklat sampai hitam, perut berwarna hijau kekuningan. Siklus hidup 7 - 10 hari.
Temperatur mempengaruhi reproduksi ( > 25 - < 28,5 °C mengurangi umur imago dan jumlah keturunan, > 28,5OC reproduksi terhenti). Berkembang biak secara partenogenesis. Seekor kutu menghasilkan keturunan 50 ekor. Lama hidup kutu dewasa dapat mencapai 2 bulan.
Gejala Secara langsung, kutu daun ini mengisap cairan tanaman. Akibatnya, daun yang terserang keriput, berwarna kekuningan, terpuntir dan pertumbuhan  tanaman terhambat (kerdil), sehingga tanaman menjadi layu dan mati.  Gejala Secara tidak langsung, kutu daun berperan sebagai penyebar (vektor)  penyakit virus. Tanaman yang terserang penyakit virus akan menjadi kerdil, daun berukuran kecil dan pertumbuhannya terhambat.Dampak langsung serangan hama ini adalah tanaman menjadi keriput, tumbuh kerdil, warna daun kekuningan, terpuntir, layu lalu mati. Secara tidak langsung, kutu ini merupakan vektor lebih dari 150 strain virus terutama penyakit virus CMV, PVY. Kutu ini biasanya hidup berkelompok dan berada di bawah permukaan daun, menghisap cairan daun muda dan bagian tanaman yang masih muda (pucuk). Eksudat/cairan yang dikeluarkan kutu ini mengandung madu sehingga mendorong tumbuhnya cendawan embun jelaga pada daun yang dapat menghambat proses fotosintesa.
Pengendalian dapat dilakukna dengan cara sebagai berikut.
a.         Pergiliran tanaman.
b.        Tanam serempak.
c.         Tanaman yang terserang segera dicabut dan dimusnahkan.
d.        Sanitasi kebun.
e.         Penggunaan varietas resisten.
f.         Kumpulkan dan musnahkan buah terserang.
g.        Penggunaan musuh alami seperti Parasitoid Aphelinus asychis, Aphidius rosae, Diaeretiella rapae Predator Coccinella transversalis, dan Cendawan entomopatogen Erynia neoaphidis

d. Kutu Daun  (Aphis gossypii Glover)
Ordo : Homoptera
Famili : Aphididae
Distribusinya berupa kosmopolit. Tanaman inang : polifag , asparagus, alpukat, pisang, mentimun, terung, Hibiscus, kapas, papaya, cabai, kentang, bayam,tomat, semangka dll . Perkembangannya yaitu partenogenesis. hama ini berbentuk seperti pear, warnanya bervariasi dari hijau muda sampai hitam, kuning. Mempunyai kornikel pada bagian ujung abdomen. Imago dapat hidup selama 28 hari. Satu ekor imago betina dapat menghasilkan 2-35 nimfa/hari. Siklus hidup dari nimfa sampai imago 5-7 hari. Selama satu tahun dapat menghasilkan 16-47 generasi.

Gejala serangan yaitu serangan berat biasanya terjadi pada musim kemarau. Bagian tanaman yang diserang oleh nimfa dan imago biasanya pucuk tanaman dan daun muda. Daun yang diserang akan mengkerut, pucuk mengeriting dan melingkar shg pertumbuhan tanaman terhambat atau tanaman kerdil. Kerusakan ringan akan menyebabkan daun menguning.Hama ini juga mengeluarkan cairan manis seperti madu shg menarik datangnya semut dan cendawan jelaga berwarna hitam. Adanya cendawan pada buah dapat menurunkan kualitas buah. Aphid juga dapat berperan sebagai vektor virus penyakit tanaman (50 jenis virus) sep. Papaya Ringspot Virus, Watermelon Mosaic Virus , Cucumber Mosaic Virus (CMV).
Pengendalian dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut.
a.         Mengatur waktu tanam.
b.        Pergiliran tanaman.
c.         Penggunaan musuh alami seperti Parasitoid Aphelinus gossypi (Timberlake), Lysiphlebus testaceipes (Cresson). Predator Coccinella transversalis dan Cendawan entomopatogen Neozygites fresenii
e. Busuk buah
Penyebabnya adalah jamur Phytophthora sp. Phomopsis vexans, Phytium sp.
Gejala pada buah terung mula-mula terjadi bercak kebasahan yang bergaris tengah lebih kurang 0,5 cm. Becak meluas dengan cepat ke arah sumbu panjang, sehingga becak bentuknya memanjang. Pada jenis berbuah bulat dan warnanya ungu becak tetap berbentuk bulat dan berwarna gelap. Bagian dalam buah berubah warnanya, kebasah-basahan, dan berbatas coklat tidak teratur. Akhirnya buah terlepas dari kelopaknya dan menjadi busuk sama sekali.
Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
Dalam pertumbuhan,sporulasi dan infeksinya, Phytophthora banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan,diantaranya adalah kelembaban tanah, tersedianya bahan organik, pHtanah dan keberadaan mikroorganisme lain. Kelangsungan hidup suatu patogen dapat meningkat apabila selainhidup sebagai parasit tanaman, juga mempunyai kemampuan hidup tanpa tanaman inang misalnya dengan membentuk struktur dorman atau propagul istirahat dan hidup saprofitik.Kemampuan hidup Phytophthora tanpa tanaman inang, beranekaragam. Semua struktur Phytophthora kecuali klamidospora dan oospora akan mati pada kondisi kering. Sporangia, zoospora atau miselium hanya dapat bertahan dalam tanah yang lembab.
a.         Menanam terung dengan jarak tanam yang cukup.
b.        Membersihkan gulma dan memelihara drainase.
c.         Buah-buah yang sakit dipetik dan dipendam.
e.   Antraknose
Penyakit ini disebabkan oleh Gloeosporium melongena Ell.
Gejala pada buah becak-becak melekuk, bulat, yang dapat bersatu menjadi becak besar yang tidak teratur. Becak berwarna coklat dengan titik-titik hitam yang terdiri dari aservulus jamur.
Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.

Faktor penyebab tanaman Antraknosa adalah sebagai berikut :
a.       Penggunaan pupuk N yang terlalu banyak yang menyebabkan tanaman menjadi rimbun dan kelembaban meningkat akhirnya timbul jamur. Dengan demikian pupuk N harus dikurangi.
b.      Kelembaban iklim mikro, dimana kelembaban ini timbul akibat jarak tanam yang terlalu rapat serta pemangkasan yang tidak dilakukan.
c.       Percikan air hujan atau air siraman yang mengenai buah cabai. Akibatnya buah cabai diselimuti air hujan atau air siraman tersebut menimbulkan jamur.Maka untuk pengendaliannya harus menggunakan MPHP atau penutup tanah.
a.         Menanam terung dengan jarak tanam yang cukup.
b.        Membersihkan gulma dan memelihara drainase.
c.         Buah-buah yang sakit dipetik dan dipendam.
d.        Rotasi tanaman.
e.         Penggunaan varietas resisten.
f. Menyemprot dengan fungisida kontak (dithane, nordox, kocide, antracol, dakonil dll) bersamaan dengan sistemik (derosal, bion M, amistartop) dll


BAB V
PENUTUP
5.1   Kesimpulan
Dari pengamatan yang kami amati pada lahan yang ditanami tanaman terong (Solanum melongena L.)  populasi tingkatan serangan hama lebih tinggi dibandingkan penyakit. Dan hama yang banyak ditemukan adalah Epilachna spp, Kutu Daun (Aphis spp.),Spodoptera litura  F., Kutu daun (Myzus persicae Sulzer)
. Dan penyakit yang rentan menyerang tanaman terong adalah bercak daun yang disebabkan jamur Cercospora sp, Alternaria solani, Botrytis cinerea. Dan Antraknosa yang
Pada pengamatan ini populasi tingkatan serangan hama lebih tinggi dibandingkan penyakit.
Untuk pengendalian, serangan hama dan penyakit masih dibawah ambang ekonomi dan belum memerlukan pengendalian menggunakan pestisida.


5.2   Saran
·        Pengamatan harus lebih teliti untuk dapat mengidentifikasi gejala serangan hama.
·        Memperbanyak literatur sebagai bahan perbandingan dengan gejala serangan hama penyakit yang ditemukan di lapanagan.
·        Untuk pengendalian, serangan hama dan penyakit masih dibawah ambang ekonomi dan belum memerlukan pengendalian menggunakan pestisida.















DAFTAR PUSTAKA

http: www// Jabar.litbang.deptan.go.id/pdf/liptan/nabati.pdf. diakses tgl 19 Des 2013, 22.10 WIB
http://cempara.blogspot.com/2012_09_01_archive.html diakses tgl 19 Des 2013, 22.20 WIB


LAMPIRAN
 




Telur kumbang Epilachna
Larva Kumbang Epilachna
Kumbang dewasa Epilachna
Gejala serangan kumbang Epilachna





Ulat Grayak
(Spodoptera litura F.)
Gejala serangan ulat grayak
(Spodoptera litura F.)
Nimfa kutu  daun
Amarasca devastans
Aphids dibawah daun
Aphis gossypii Glover






Busuk buah jamur Phytophthora sp
Daun menguning akibat
Serangan kutu daun
Antraknosa oleh Gloeosporium melongena Ell.














 









3 komentar:

  1. ma'af; yg kami butuhkan gimana cara mengatasi hama hama yg merusak pada tanaman terong...... trima kasih

    BalasHapus
  2. PUSAT SARANA BIOTEKNOLOGI AGRO

    menyediakan RHIZOBIUM untuk keperluan penelitian, laboratorium, mandiri, perusahaan .. hub 081805185805 / 0341-343111 atau kunjungi kami di https://www.tokopedia.com/indobiotech temukan juga berbagai kebutuhan anda lainnya seputar bioteknologi agro

    BalasHapus
  3. Grand Casino - MapYRO
    A 대전광역 출장마사지 map showing Grand Casino in Tacoma containing address, 양주 출장샵 telephone 동두천 출장샵 number, The gaming floor 토토사이트 is filled with 20 slot machines, including popular table games such as Blackjack, 구미 출장샵

    BalasHapus